Laman

Senin, 26 Maret 2012

Pengaruh Dosa Terhadap Kebaikan Sejati

Nats: Kej. 1:25, 31a; 3:6
Ro. 12:2; Mzm. 86:5; 106:1; 107:1; 118:1
I. Kebaikan Sejati
  A. Sifat Allah, pribadi Allah: BAIK
  B. Hasil karya Allah: BAIK
II. Reaksi Manusia atas Kebaikan Allah
   A. Manusia lebih memilih apa yang bertentangan dengan kebaikan Allah
   B. Manusia mulai mengganti makna/arti kebaikan sejati itu dengan versi sendiri.
        Contoh:
         1. Hawa: hal “baik” diganti dgn sesuatu yang menyenangkan dan menguntungkan diri:
             enak, sedap, dan menarik karena memberi pengertian
         2. Adam dan Hawa: saling melempar kesalahan, manusia tidak mau disebut bersalah.
              a. Ay. 12: Adam mempersalahkan Hawa
              b. Ay. 13: Hawa mempersalahkan ular.
3. Kain: Kej. 4:5-10 “Kain sudah diingatkan oleh Allah tentang kebaikan sejati, tapi ia lebih memilih membunuh Habel. Pola ini diwarisi oleh para pemimpin diktator yang membabat habis orang-orang yang bakalan menyaingi dia. Di sini kebaikan diplintir atau diberi makna baru, yg identik dengan kekersan. Orang yang berada pada taraf ini akan menilai bahwa kekerasan yang dilakukannya itu adalah suatu kebaikan.
Kej. 4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."
4. Saul: Pelanggaran dianggap sebagai hal yang wajar bahkan rohani.
a. 1Sam. 15:9: Saul dan Rakyatnya menyelamatkan Raja Agag dan kambing dombanya
b. 1Sam. 15:15: karena rakyat yang menyelamatkannya
c. Di sini Saul mulai melempar kesalahan kepada rakyatnya, ia ingin mencuci tangan. Sungguh dia pemimpin yang pengecu
d. Dalam waktu bersamaan dia juga membenarkan kesalahannya itu dengan alasan ibadah/rohani.
5. Umat Israel zaman Yesus:
a. Mereka lebih memilih membebaskan Yesus Barabbas yang terbukti melakukan kejahatan dan dijatuhi hukuman
b. Dalam hal ini kebenaran dan yang mereka miliki ditutupi atau dikalahkan oleh kebencian dan dengki.
27:16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.
27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"
27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.
6. Perbandingan dengan kondisi sekarang:
a. Koruptor kelas kakap dibandingkan dengan orang miskin mencuri buah kakao, jagung dll.
b. Seorang tersangka korupsi kelas kakap menawarkan diri sebagai staf ahli dalam institusi penegakan hukum. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa kesalahan besar yang dituduhkan terhadapnya itu bukanlah kesalahan
c. Benarlah perkataan Rasul Paulus dalam Roma 1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman
d. Yang sangat parah adalah tatkala manusia berbuat dosa dan kejahatan, tidak lagi disadari sebagai dosa dan kejahatan tetapi sebaliknya dinilai sebagai kebaikan.
e. Ternyata bahwa pemaknaan manusia tentang hal “baik” sudah semakin jauh dari makna sesungguhnya
f. Dosalah yang mengakibatkan manusia buta akan kebaikan sejati. Tapi puji Tuhan, Ia mengutus AnakNya untuk menebus dosa-dosa kita. Ia menyatakan kembali arti kebaikan sejati melalui pribadi dan karya Yesus Kristus.



       B. Pemulihan Oleh Kristus Yesus
1. Mat. 19:17 Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Di sini Yesus hendak mengatakan bahwa hanya Allah yang baik. Mengapa? Karena kebaikan yang manusia miliki sudah mengalami banyak modifikasi dan penyimpangan.
2. Yesus mengklaim diri-Nya baik, tergambar dalam ungkapanNya tentang gembala yang baik
a. Yoh. 10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
b. Dalam konteks ini, Yesus menyoroti para pemimpin agama dan pemerintah, yang sesungguhnya ditugaskan sebagai gembala atas Israel tetapi malah sebaliknya mereka berlaku sebagai gembala upahan.
c. Yesus selaku gembala, mengorbankan diriNya untuk domba-dombaNya. Inilah kebaikan sejati yang seharusnya diteladani oleh manusia.
3. Kebaikan sejati ini ditunjukkan oleh Kristus untuk memulihkan kita dan menjadikan kita umat kepunyaanNya, kemudian Ia berkata: belajarlah kepadaKu karena aku lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan)
4. Apa yang harus kita lakukan?
a.  Mencari kehendak dari kebaikan sejati. Karena Kristus adalah Kebaikan Sejati, maka kita harus belajar dariNya dan mencari kehendakNya.
b. Rela menderita demi Kebaikan Sejati itu. 1Pet. 3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat. Mengapa ada harga yang harus dibayar? Oleh karena kita mencari dan menggenapkan kehendak Allah yang BERBEDA dari kehendak dunia. Kehendak Allah selalu: agung, mulia, kudus, benar, baik dan sempurna, sedangkan kehendak dunia selalu: sampah, berdosa, jorok, jahat,  salah dan menjijikkan.
  c. Berbuah baik. Mat. 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik (agathon =  baik) menghasilkan buah yang baik (kalos = baik - - dalam hal moral), sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
  d. Siap ditegur oleh Kebaikan Sejati. Wahyu 3:19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Jika Allah tidak menegur kita itu berarti Allah tidak menganggap kita sebagai anakNya (Ibr. 12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar