Laman

Selasa, 20 Maret 2012

Bergembira Dalam Tuhan


1Raj. 8:65-66
Maz. 40:17
1.    Kwalifikasi orang yg bergembira (siapakah yg patut bergembira?)
a.    Orang yang mencari Tuhan
                                  i.    Yes. 55:6 “Carilah Tuhan selagi Ia berkenan ditemui”
                                ii.    Mat. 6:33 “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya...”
b.    Orang yang mencintai keselamatan dari Tuhan
2.    Dasar Kegembiraan (mengapa kita bergembira): Tuhan
a.    Kebaikan-Nya   (1Raj. 8:66)
b.    Kebesaran-Nya (Maz. 40:17)
3.    Cara bergembira
a.    Cara duniawi:
                                  i.    Pengkhotbah 11:9  Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!
b.    Cara rohani:
                                  i.    1 Raja-raja 8:66  Pada hari yang kedelapan disuruhnya bangsa itu pergi, maka mereka memohon berkat untuk raja, lalu pulang ke kemah mereka sambil bersukacita dan bergembira atas segala kebaikan yang telah dilakukan TUHAN kepada Daud, hamba-Nya, dan kepada orang Israel, umat-Nya.
                                ii.    Luk. 10:21 “Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
                               iii.    Yohanes 16:22  Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.
Mazmur 40:16  (40-17) Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata: "TUHAN itu besar!"

Berlomba Dengan Tekun


Nats: Ibrani 12:1-3
 
Pendahuluan:

I.        Jenis Perlombaan: perlombaan iman, melanjutkan perlombaan para pahlawan iman sebelumnya. Kita melanjutkan perlombaan estafet. Terkait dengan pasal  11 “saksi-saksi iman”
a.       Berlomba dalam mempertahankan iman yang murni. Gal. 5:7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?
b.      Berlomba dalam pekerjaan iman (pelayanan).   Cf. Filp 2: 14-16:
                                i.      Melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantah.
                              ii.      Rela berkorban utk pekerjaan iman  (Flp. 2:17)
II.     Syarat berlomba: menanggalkan semua beban dan dosa.
a.       Menanggalkan Beban. Jenis-jenis beban:
                                i.      Hal keduniawian, yg dpt merintangi kita sehingga tidak leluasa.
                              ii.      Pengandalan pada diri sendiri. Potensi dan prestasi diri patut dibanggakan, namun perlu dipahami bahwa itu sifatnya sementara dan terbatas. Untuk hal kekal, jangan andalkan hal yg fana. Ilustrasi kapal pecah. Jangan mengandalkan pecahan kapal untuk menyelamatkan diri, tapi lepaskanlah itu untuk menerima keselamatan.
                            iii.      Sikap atau cara pandang terhadap segala yg ada di sekeliling kita, termasuk sesama kita, sehingga mempengaruhi perlombaan kita. (dalam dunia olah raga dibutuhkan suporter). Jadi kondisi sekeliling harus diciptakan sedemikian rupa untuk menjadi pendukung dlm perjuangan/perlombaan. Bandingkan bila kita berlomba/bertanding di kandang lawan.
b.      Menanggalkan dosa. Dosa yg dimaksud di sini dapat berarti kecenderungan untuk berhenti berlomba, atau mundur dari iman.
III.   Cara berlomba: mata tertuju pada Yesus
a.       Memandang Yesus sebagai teladan: teladan dalam hal:
                                i.      Ketabahan dlm penderitaan (Penderitaan memikul salib)
1.   Ia tidak menyerah walau kondisi sangat sulit: sasaranNya adalah menuntaskan pekerjaan penebusan di kayu salib.
2.   Ia malah memikirkan hal baik bagi musuhNya: ampunilah mereka.
                              ii.      Doa (5:7)
1.   DoaNya menyangkut hidup atau mati, menyangkut hal esensial dalam pelayananNya.
2.   DoaNya lebih mengutamakan kehendak BapaNya. (“janganlah kehendakKu, tatapi kehendakMulah yg jadi”)
                            iii.      Kepercayaan kepada Allah (2:13)
b.      Memandang Yesus sebagai sumber kekuatan
c.       Memandang kepada Yesus yg sudah menang (duduk di sebelah kanan Allah Bapa)